Kitab digital pendamping kanal YouTube @fathulwahhab Subscribe YouTube →
Sholawat · Doa · Dzikir · Hizib

fathulwahhabdotcom

Mengenal Hizib Bahar


Hizib Bahar — atau Hizb al-Bahr — adalah salah satu wirid paling dikenal di kalangan pengikut Tarekat Syadziliyah. Namanya sendiri berarti "hizib lautan", dan di balik nama itu ada kisah serta keutamaan yang jarang dibahas tuntas. Artikel ini adalah versi lengkap dari video di kanal YouTube kami.

Siapa Penyusun Hizib Bahar?

Hizib Bahar disusun oleh Syekh Abul Hasan Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah. Beliau lahir di Iskandariah (Ghumarah, Maroko menurut sebagian riwayat) pada 571 H dan wafat pada 656 H. Asy-Syadzili dikenal luas sebagai wali qutub dan salah satu tokoh sufi besar dalam sejarah Islam — bukan hanya karena karomahnya, tapi juga karena garis keilmuan yang lahir darinya.

Dari murid beliau, Abul Abbas al-Mursi, lahir dua ulama besar yang karyanya masih dibaca luas hingga sekarang: Ibnu Atha'illah as-Sakandari, penulis kitab tasawuf Al-Hikam, dan Imam al-Bushiri, penyusun Qasidah Burdah. Jejak keilmuan inilah yang membuat Asy-Syadzili begitu dihormati dalam dunia tasawuf.

Selain Hizib Bahar, Asy-Syadzili juga mewariskan beberapa hizib lain seperti Hizib An-Nashr, Hizib Barr, Hizib Nur, dan Hizib Tawasul. Namun di antara semuanya, Hizib Bahar-lah yang paling masyhur dan paling banyak diamalkan.

Kenapa Disebut "Hizib Bahar" (Laut)?

Ada dua penjelasan yang biasa disebutkan ulama tentang asal nama ini. Pertama, konon sebelum disebarluaskan, lembaran hizib ini pernah dibiarkan menggenang di laut. Kedua, di dalam teks hizib ini sendiri memang disebutkan kata "bahr" (laut). Karena itu ia juga dikenal dengan sebutan al-Hizib ash-Shaghir, "hizib kecil" — kecil dari sisi panjang teksnya, tapi menurut penyusunnya sendiri, sangat besar keberkahannya.

๐Ÿ“บ Video terkait di kanal kami

Keutamaan Hizib Bahar

Imam Asy-Syadzili sendiri menjelaskan keistimewaan hizib ini dengan cukup tegas. Beliau menyebutnya sebagai hizib yang agung derajatnya: siapa yang membacanya dalam keadaan takut, ia akan merasa aman; siapa yang sakit, ia akan mendapat kesembuhan; dan siapa yang gelisah, kegelisahannya akan reda. Beliau bahkan menyatakan bahwa seandainya hizib ini dibacakan atas kota Baghdad, kota itu tidak akan jatuh ke tangan bangsa Tartar.

Karena keutamaan itu, Asy-Syadzili menamai wirid ini al-'Uddah al-Wafiyah wal Jannah al-Waqiyah — bekal yang mencukupi dan perisai yang melindungi. Beliau juga menyebutkan, siapa yang membacanya saat matahari terbit, Allah akan mengabulkan doanya, melapangkan kesempitannya, mengangkat derajatnya, melapangkan dadanya, dan melindunginya dari gangguan jin maupun manusia.

Dalam riwayat lain disebutkan pula amalan pelengkap untuk hajat besar: membaca Surat Al-Fatihah tujuh kali dan Surat Quraisy dua puluh satu kali, sebelum membaca Hizib Bahar sebanyak tiga kali.

Adab Sebelum Mengamalkan

Ini bagian yang penting dan sering terlewat: para masyaikh menekankan bahwa Hizib Bahar sebaiknya tidak diamalkan asal ambil dari internet atau buku begitu saja. Dianjurkan menerima ijazah — izin dan sanad bacaan — dari guru yang memang memiliki otoritas untuk mengijazahkannya. Ijazah ini bukan formalitas kosong; ia adalah jalur transmisi adab, tata cara, dan keberkahan yang bersambung dari guru ke guru hingga kembali ke Imam Asy-Syadzili, dan pada akhirnya kepada Rasulullah ๏ทบ.

Beberapa adab umum yang biasa disampaikan para guru sebelum mengamalkan hizib semacam ini:

  • Berwudhu dan berada dalam keadaan suci sebelum membaca
  • Membaca dengan tenang, memahami arti, bukan sekadar terburu-buru mengejar jumlah bacaan
  • Menjaga niat — hizib ini adalah bentuk kedekatan dengan Allah, bukan sekadar "jampi" untuk hajat duniawi semata
  • Idealnya dibaca dalam bimbingan atau sepengetahuan guru/mursyid

Karena alasan itu pula, kami tidak menuliskan teks lengkap Hizib Bahar di artikel ini. Untuk teks dan tata cara yang lengkap dan sahih, silakan rujuk kitab aslinya atau pelajari langsung dari guru yang berkompeten di bidang ini.

Penutup

Hizib Bahar adalah salah satu warisan besar dari Imam Abul Hasan Asy-Syadzili — kecil dalam jumlah kalimat, tapi menurut para pengamalnya, luas dalam keberkahan. Semoga penjelasan ini melengkapi apa yang sudah dibahas di video, dan menjadi pengingat bahwa ilmu semacam ini sebaiknya dipelajari dengan adab dan sanad yang jelas, bukan sekadar dihafal dari layar.

Wallahu a'lam.